banner-hjb-534-pemkab>

Ritual Ngabungbang di Cimande, Tradisi Berusia Ratusan Tahun

1

Cimande, bogorpos.com – Setiap memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat selalu dipadati peziarah yang datang dari berbagai daerah. Tradisi ziarah ini disebut “Ngabungbang”.
Menurut beberapa sumber dikalangan tokoh masyarakat setempat, tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun.

Bhimo, salah satu warga Cimande mengatakan, Ritual ziarah “Ngabungbang” adalah warisan budaya leluhur dari Kesepuhan Cimande. Ritual ziarah tersebut berlangsung setiap memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, selama dua hari, yakni setiap tanggal 14 dan 15 bulan Maulid. Dahulu kala, ritual ziarah “Ngabungbang” dimanfaatkan para guru padepokan – padepokan Pencak Silat di Cimande sebagai moment untuk mematangkan tingkatan ilmu para muridnya.

“Hingga kini setiap tanggal 14 dan 15 bulan Maulid tradisi ziarah “Ngabungbang” masih terus dilaksanakan dan dilestarikan para keturunan Cimande,” kata Bhimo kepada bogorpos Senin, (12/12/16) malam.

Lanjut dia, dalam tradisi ziarah “Ngabungbang”, ribuan peziarah mendatangi beberapa lokasi pemakaman kesepuhan Cimande. Diantaranya, makam Kesepuhan Eyang Sarean Kertasinga di Kampung Cikodok tidak jauh dari pertigaan kantor Desa Lemah Duhur, makam Mbah Ace dan Mbah Abdussomad di Tarikolot, Mbah Rangga Wulung Tarikolot, Mbah Angguh dan beberapa makam kasepuhan lainnya.

Menurutnya, ritual “Ngabungbang” juga merupakan waktu yang dianggap tepat untuk memandikan berbagai jenis benda pusaka peninggalan leluhur, bagi masyarakat yang meyakininya.

“Dari sore sudah banyak yang datang untuk berziarah, kendaraan saja tidak bisa lewat,” katanya.

Saat dipadati peziarah, suasana di Kampung Cimande ramai dan tampak meriah. Suasana ramai ini terasa di sepanjang jalan raya Desa Cimande. Hampir semua warga membuka pintu rumahnya sejak siang hingga malam hari, karena banyak kedatangan tamu atau saudaranya yang berkunjung.

Hari puncak “Ngabungbang” pada 14 dan 15 Maulid, ramainya pengunjung menyebabkan jalan sejauh sepuluh kilometer padat, hingga tidak dapat dilalui kendaraan, dikanan dan kiri jalan, penuh dengan pedagang musiman yang sengaja datang sejak dari sore, para peziarah pun harus rela berjalan kaki untuk sampai ke lokasi ziarah yang dikeramatkan.

“para peziarah yang datang bawa kendaraan banyak yang dititipkan, karena tidak bisa masuk, mereka harus berjalan kaki menuju lokasi,” pungkasnya. (Djava)

Share.

1 Comment

Leave A Reply