Tontowi Ahmad. Photo: Djarum Badminton
Tontowi Ahmad. Photo: Djarum Badminton
Olahraga  |   |  Ibrahim

Setelah Mundur Dari Pelatnas, Tontowi Ahmad Langsung Gantung Raket, Ini Alasannya

Setelah hampir selama 24 tahun berkiprah di dunia bulutangkis, pemain ganda campuran asal PB Djarum yang juga meraih medali emas Olimpiadi Rio De Janeiro 2016, Tontowi Ahmad akhirnya resmi gantung raket. Usai mundur dari pelatnas, Owi demikian biasa dia disapa memutuskan untuk mengakhiri karir bulutangkisnya, berikut alasan atlet berusia 32 tahun ini mundur dari dunia bulutangkis yang dikutip dari situs pbdjarum.org.

Sebenarnya rencana sih sudah sejak lama, bahkan ada kepikiran waktu Ci Butet (Liliyana Natsir - mantan pasangannya) memutuskan gantung raket awal tahun 2019 lalu. Hanya saja waktu itu keluarga belum mengijinkan, dan saya pribadi ingin menunjukkan bahwa saya bisa apa tidak tetap bermain walau tanpa Ci Butet. Setelah mencoba main lagi, sampai pada akhirnya hari ini saya memutuskan untuk benar-benar gantung raket,” ungkap Owi.

Salah satu alasan terbesar saya karena ingin lebih dekat dengan keluarga, mau lebih banyak waktu untuk mereka,” kata Owi.

Selain itu saya mikir cepat atau lambat bakal pensiun, dan udah nggak muda lagi. Saya juga sudah mendapatkan gelar Olimpiade, dan menurut saya itu puncak prestasi yang sudah saya capai, karena targetnya di situ,” ungkap Owi.

Rencana mundurnya Owi dari bulutangkis sebenarny sudah tercium sejak bulan Februari 2020, seperti dikutip dari situs jawapos.com Kepala Pelatih Ganda Campuran Indonesia, Richard Mainaky membeberkan pesan singkat dari Tontowi yang mengatakan bila dirinya ingin mengundurkan diri alias pensiun.

’’Saya rencana kontrak abis, mau ngundurin diri. Mau pensiun. Makasih ya K Icat (Kak Icad, sapaan buat Richard, Red) sudah bantu saya selama ini. Dari saya belum jadi apa-apa sampai sekarang,’’ tulisnya dalam pesan yang ditunjukkan Richard (24/2) seperti dilansir oleh jawapos.com.

’’Nanti saya ke Cipayung ya K Icat. Sekali lagi terima kasih banyak. Sampai saya menjadi seperti ini tidak lepas dari bantuan K Icat,’’ sambung Owi dalam pesan via Whatsapp kepada Richard Mainaky.

Sebelum menyatakan bahwa keluarga merupakan salah satu faktor terbesar yang menjadi alasan mundur dari dunia bulutangkis, seperti dilansir situs jawapos.com (19/5). Owi sempat mengucap bahwa status sebagai pemain magang yang ia dapat pada SK Pelatnas 2020 turut menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi keputusannya. Status magang biasanya diberikan buat pemain muda atau baru bergabung di pelatnas, dari sisi fasilitas tentu berbeda dengan mereka yang mendapat prioritas Olimpiade.

Owi merasa kaget dengan status tersebut, karena menurutnya selama tahun 2019, ia dan partner barunya Winny Oktavina Kandow masih tampil cukup baik. Menembus babak perempat final sebanyak tujuh kali, bahkan tiga diantaranya di level Super 1000 yakni All England, Indonesia Open, dan China Open. Mengalahkan pasangan nomor lima dunia (saat itu) Chan Peng Soon/Goh Liu Ying sebanyak dua kali, bahkan rekan satu pelatnas yang berperingkat lebih baik dari mereka Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja.

’Maksudnya saya tak sejelek itu yang harus langsung dibuang. Maksud saya (PBSI) harusnya bisa menghargai,’’ kata Owi.

Owi sayangnya tidak menanyakan alasan PBSI memberi dia status magang, bagi dia itu sudah menjadi keputusan Organisasi. ’’Saya tidak tahu ini keputusan individu atau gimana. Tetapi, ini kan atas nama organisasi. Saya atas nama pribadi tak ada dendam,’’ ucapnya.

Owi pun enggan disebut kehilangan motivasi sejak ditinggal pensiun oleh Liliyana Natsir. ’’Nggak juga. Dari pertama setelah dia (Liliyana, Red) pensiun, saya juga masih main lagi. Cuma kondisi memang tidak mendukung, Dengan status saya yang dimagangkan, itu cukup mengganggu motivasi saya untuk melanjutkan karir,’’ tegasnya.

Saya tahu magang sejak Desember 2019. Kaget saja. Saya nggak nyangka, kok PBSI kayak gini. Padahal saya sudah plan untuk kejuaraan tahun depan. Seharunya mereka mengayomi dan menghargai atlet-atlet di dalamnya, seharusnya saya tidak dibuang. Apakah ini masalah pribadi atau organisasi kepada saya, saya tidak tahu,” tambah Owi lagi.

Saya juga sudah memikirkan matang-matang pensiun ini. Saya juga sering sharing dengan ci Butet. Dia pernah bilang, kalau pensiun saat prestasinya turun pasti akan dilupakan orang. Mumpung kamu masih di atas, jadi ya sekarang waktu yang tepat untuk pensiun,” ujar Owi.

Owi menambahkan status magang bukan lagi menjadi faktor terbesar yang menjadi alasa baginya untuk mundur, namun rasa ingin lebih dekat dengan keluarga akhirnya yang lebih menjadi faktor utama, keluhan dari sang buah hati untuk waktu bertemu yang kurang dengan ayahnya menjadi salah satu pertimbangan dari ayah dua anak ini.

Tontowi Ahmad Badminton Gantung Raket PB Djarum PBSI Olahraga